• Janji Kirim Buku

    Ini semacam kisah … hmmm, gimana mulainya ya?

    Jadi gini, dulu waktu masih SMA, punya cita-cita, kalau sudah bisa punya buku sendiri, pengen mengirimkan salah satunya untuk guru bahasa Indonesia di SMA. Nah jadi sekarang, hal itu sudah terwujud—punya buku—Cuma entah kenapa, malah jadi ragu untuk kirim buku itu buat guru bahasa Indonesia. Alasannya?

    Pertama, malu karena buku baru sebiji. Ya meski namanya udah nyempil di halaman sampul buku, yang namanya buku baru sebiji kok rasanya belum cukup, gitu. Well, ini murni perasaan pribadi sih. Cuma ya kok rasanya masih ada yang kurang.

    Kedua, khawatir kalau … ‘buku gini aja dibanggain?’ Setalah baca ulang, kok ternyata tulisannya masih kritis bin mengkhawatirkan gini ya? Hehehe … rasanya masih perlu belajar nulis lagi, edit lagi dan mencoba lagi. Jadi, malu lah ya, kirim sama guru bahasa Indonesia tapi masih agak kurang rapi gini. (sungkem sama editor gue). Well, lagi-lagi ini alasan pribadi banget ya. Tapi tetep aja.

    Ketiga, merasa belum terlalu keren. Waktu gue bilang, ‘gue pengen kirim buku sama guru di SMA, tapi malu dan takut, soalnya buku gue belum keren’, temen gue bilang ‘harusnya cita-cita elo dulu, bikin buku keren dulu baru kirim sama guru kita’. Glek … gue tersindir habis-habisan.

  • Fun Science, yang juga harus ‘FUN’

    Ketika hape mulai lemot, maka yang pertama dilakukan adalah cek folder gambar untuk menghapus (sebagian besar) gambar yang tersimpan di memory internal dari WA. Sebenarnya sih, WA sudah disetting agar tidak download gambar/video otomatis, biar hemat gitu. Tapi kadang, kalau ada info di grup, tergoda juga untuk download gambarnya. Jadinya ya tetap numpuk, padahal belum tentu juga berguna/penting.

    Saat iseng-iseng hapusin gambar, nemu gambar dari grup SMA. Isinya tentang poster sebuah karya ilmiah yang diikutsertakan adek kelas di SMA pada sebuah event dan masuk final.

    Nah, selidik punya selidik, akhirnya terdampar juga di IG penyelenggara event itu. Akhirnya baru tahu kalau event itu punya tema keren ‘fun science’. Dan dari sana ada list yang menunjukkan nama dan judul beberapa tulisan yang lolos ke babak final. Yang keren apanya? Biasa aja deh. Yang keren adalah … judulnya lucu-lucu. Iya, lucu banget. Dengan tema ‘fun science’, ternyata judul-judul tulisan mereka juga ‘fun’. Lucu, nyleneh, sepele, nggak penting, TAPI dikemas dalam tulisan ilmiah yang layak dipertanggungjawabkan. Nah lho …

    Ketika gue iseng posting judul itu di status WA, sudah ada dua orang yang berkomentar. Katanya judulnya lucu-lucu, keren dan … nggak tertebak. Jujur, gue juga pengen ketawa rasanya. Ini yang keren si siswanya, atau guru pembimbingnya ya? Ya … yang manapun itu, jelas IDE-nya yang keren. Jadi, yang mahal dari sebuah karya adalah … IDE-nya. Gue Cuma pengen bilang, KEREN kalian adek-adek SMA.

    Gue? Nggak mungkin kan gue ikut berkompetisi model begitu lagi, karena gue bukan anak SMA lagi. Tapi ada satu keinginan yang—pengen banget—gue wujudkan, yakni menjadi pembimbing anak-anak yang tulisannya sekeren itu. Gue berharap, ada tulisan anak asuhan gue yang juga bisa muncul dalam event sekeren itu. Bisa nggak ya?

    Kalau melihat diri sendiri saat ini, mungkin gue butuh perjuangan ekstra. Selain karena sudah terlalu lama hiatus dari yang model beginian—karya ilmiah—, gue juga harus terampil menemukan ‘berlian’ di antara tumpukan tanah-pasir-kerikil, lalu—secara telaten—mengasahnya hingga bisa menghasilkan karya luar biasa di event keren seperti itu.

    Jagi, memang harus dimulai dari diri gue dulu sih. Mulai—memaksa diri—merutinkan membaca dan menulis lagi. Harus meluangkan waktu untuk menulis. Nggak boleh nunggu sela—longgar. Tapi justru harus menyediakan waktu khusus untuk nulis. Nggak penting kapan, tapi harus ada. Dan harus membaca serta menulis.

  • Halo Dunia!

    Selamat Datang di WordPress! Ini adalah pos pertama Anda. Sunting atau hapus pos tersebut sebagai langkah pertama dalam perjalanan blogging Anda.